GUNUNGKIDUL – Suasana ibadah di Padukuhan Gari RT 02/11, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari, kini tak lagi sama. Tempat yang selama puluhan tahun menjadi pusat doa, syiar, dan kebersamaan warga, Masjid Al Huda, kini hanya menyisakan hamparan tanah kosong. Bukan akibat gempa bumi atau bencana alam, melainkan imbas dari janji bantuan pembangunan yang berujung petaka.
Peristiwa bermula ketika dua orang bernama Agus dan Hardiman mendatangi pengurus Masjid Al Huda dengan membawa janji bantuan pembangunan masjid. Mereka mengklaim 99 persen biaya pembangunan akan ditanggung oleh Yayasan Al Basirah dan Yayasan Polda DIY, dengan syarat bangunan lama segera dibongkar.
Dalam pertemuan yang dihadiri dukuh, RT, tokoh masyarakat, hingga pengurus masjid, kedua orang tersebut memberikan tenggat waktu dua hari untuk pengambilan keputusan. Tekanan waktu dan janji bangunan masjid berstandar SNI akhirnya membuat pengurus luluh.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Huda, Budi Antoro, mengakui keputusan tersebut diambil dengan penuh harapan.
“Kami diyakinkan bahwa bantuan hampir sepenuhnya akan ditanggung yayasan. Bahkan kami diberi batas waktu dua hari untuk memutuskan, sehingga saat itu kami berpikir ini kesempatan besar untuk membangun masjid yang lebih layak,” ujar Budi.
Tak lama setelah surat kesanggupan ditandatangani, sebuah ekskavator dikirim langsung ke lokasi tanpa konfirmasi lanjutan. Meski sempat memicu perdebatan di kalangan warga, pembongkaran tetap dilakukan pada 22–23 November, hingga bangunan Masjid Al Huda rata dengan tanah.
Namun harapan tersebut tak kunjung terwujud. Kegelisahan muncul setelah seorang perwakilan yayasan bernama Anton meninjau lokasi. Beberapa minggu kemudian, pengurus menerima kabar bahwa Yayasan Al Basirah menolak permohonan bantuan pembangunan.
“Saat kami konfirmasi, ternyata pihak yayasan menyatakan tidak mengetahui rencana bantuan ini. Itu yang membuat kami benar-benar terpukul,” ungkap Budi.
Pengurus masjid juga melakukan klarifikasi ke Bon Ali dari Yayasan Polda DIY. Hasilnya, pihak yayasan menyatakan tidak pernah merencanakan bantuan sebagaimana yang dijanjikan Agus dan Hardiman.
Sementara itu, kedua orang yang sebelumnya aktif mendatangi warga tersebut justru menghilang.
“Kami berusaha menghubungi Agus dan Hardiman, tapi nomor mereka sudah tidak aktif. Sejak saat itu tidak ada lagi kabar,” lanjutnya.
Akibat kejadian ini, kegiatan ibadah warga terpaksa dilakukan secara darurat dan terbatas. Masjid yang selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial kini tak lagi berdiri.
“Masjid ini bukan sekadar tempat salat, tapi pusat kebersamaan warga. Kehilangannya sangat kami rasakan,” kata seorang warga Padukuhan Gari yang enggan disebutkan namanya.
Hingga saat ini, dana yang berhasil dihimpun panitia baru mencapai sekitar Rp450 juta, sementara estimasi kebutuhan pembangunan Masjid Al Huda mencapai Rp1,8 miliar.
“Kami tidak ingin terus terpuruk. Kami memilih bangkit dan berharap masih ada kepedulian dari para dermawan agar Masjid Al Huda bisa kembali berdiri,” pungkas Budi.
Panitia pembangunan bersama warga Padukuhan Gari pun membuka pintu donasi bagi masyarakat luas. Bantuan dapat disalurkan melalui Rekening BRI 6987-0102-941-053-5.
Warga berharap, dari puing-puing janji palsu ini akan tumbuh solidaritas nyata, sehingga azan kembali berkumandang dan Masjid Al Huda dapat kembali menjadi rumah bagi doa-doa yang sempat terhenti.






0 Komentar