GUNUNGKIDUL (DIY) – Sektor pariwisata di Kabupaten Gunungkidul kembali menjadi sorotan seiring hadirnya destinasi baru bernama “On The Rock” di kawasan Pantai Drini. Dengan luas wilayah mencapai sekitar 48 persen dari total Daerah Istimewa Yogyakarta, Gunungkidul memang menjadi magnet bagi investor untuk mengembangkan potensi kawasan karst dan pesisirnya.
Proyek ini menawarkan konsep resor bergaya Bali dengan panorama laut lepas 180 derajat dari atas tebing karang. Fasilitas premium seperti Soleil Bistro dan Bar serta sejumlah spot foto ikonik menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman eksklusif di pantai selatan.
Namun di balik kemegahan tersebut, pembangunan ini juga memicu perdebatan hangat antara percepatan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem karst Gunung Sewu yang telah diakui secara internasional sebagai kawasan bernilai geologis tinggi.
Penyerapan Tenaga Kerja Lokal
Menanggapi berbagai kritik, pihak manajemen On The Rock menegaskan bahwa kehadiran destinasi ini membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Ucok, perwakilan manajemen On The Rock, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya telah menyerap 172 tenaga kerja lokal dari Gunungkidul.
“Perlu dicatat bahwa kawasan wisata On The Rock ini terbukti meningkatkan ekonomi masyarakat Gunungkidul secara langsung. Saat ini, kami telah mempekerjakan 172 tenaga kerja lokal,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, investasi besar ini merupakan bentuk kontribusi investor dalam negeri untuk mengangkat kelas pariwisata Gunungkidul agar mampu bersaing dengan destinasi nasional maupun internasional.
Tantangan Relokasi dan Konflik Agraria
Di sisi lain, proyek ini juga menghadapi dinamika sosial terkait rencana relokasi pedagang lokal. Lahan yang direncanakan menjadi bagian pengembangan destinasi baru tersebut saat ini masih ditempati sejumlah pedagang.
Manajemen mengklaim telah mengantongi izin kekancingan dari Keraton Yogyakarta atas lahan berstatus Sultan Ground (SG).
“Pedagang itu menempati tanah SG, sedangkan kami sudah menerima kekancingannya untuk dilakukan pembangunan. Namun, hingga kini masih ada penolakan relokasi dari sebagian pedagang,” jelas Ucok.
Sebagai upaya meredam konflik, pihak pengelola menyatakan telah menyiapkan skema kompensasi serta fasilitas yang dinilai lebih representatif. Selain menyediakan tempat berjualan dengan infrastruktur yang lebih layak, manajemen juga memberikan bantuan sarana usaha seperti freezer, kulkas, dan peralatan pendukung lainnya.
“Pihak pengelola tidak serta-merta melakukan relokasi secara paksa. Kami telah memberikan kompensasi berupa alat-alat dagang untuk menunjang kualitas dagangan mereka ke depan,” tambahnya.
Mencari Titik Temu
Perdebatan mengenai On The Rock mencerminkan dinamika yang kerap muncul dalam pengembangan pariwisata berskala besar. Di satu sisi, investasi mampu menggerakkan roda ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja. Di sisi lain, isu pelestarian kawasan karst serta perlindungan ruang ekonomi bagi pelaku usaha mikro tetap menjadi perhatian publik.
Pemerintah daerah diharapkan hadir sebagai penengah guna memastikan pembangunan pariwisata di pesisir selatan berjalan berkelanjutan, tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan menjamin keadilan ruang bagi masyarakat lokal yang telah lama menggantungkan hidup di kawasan Pantai Drini.






0 Komentar