Iklan

header ads

Genap Setahun Kepemimpinan, Endah Subekti Kuntariningsih Hadirkan Ketegasan dan Kerja Nyata untuk Gunungkidul




GUNUNGKIDUL (DIY) – Tepat satu tahun sejak dilantik pada 20 Februari 2025, pasangan Bupati Endah Subekti Kuntariningsih dan Wakil Bupati Joko Parwoto terus memacu roda pemerintahan di Kabupaten Gunungkidul. Mengusung jargon Ngayomi, Ngayani, Ngayemi, kepemimpinan duet ini diwarnai aksi-aksi tegas yang viral di media sosial sekaligus langkah taktis membenahi infrastruktur di tengah kebijakan efisiensi anggaran pusat.

Ketegasan Sang “Singa” Ponjong

Sosok Endah Subekti, yang juga menyandang gelar Abdi Dalem Keraton Yogyakarta Nyi KMT Sari Bekti Argani, mencuri perhatian publik lewat gaya kepemimpinan lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Dalam sebuah video yang viral, ia mengonfrontasi langsung pelaku dugaan penipuan rekrutmen ASN yang mencatut namanya.

“Anda mencatut nama saya, menipu warga saya!” tegas Endah dalam rekaman tersebut.

Bagi publik, aksi “gebrak meja” itu bukan sekadar luapan emosi, melainkan sinyal keras bahwa transparansi birokrasi adalah harga mati. Ketegasan serupa juga diterapkan dalam evaluasi bantuan sosial. Endah tak segan mencoret penerima bansos yang menyalahgunakan dana untuk kebutuhan non-esensial.

“Bantuan ini untuk kedaulatan pangan, bukan untuk gaya hidup atau skincare,” ujarnya dalam forum evaluasi birokrasi.

Strategi Infrastruktur di Tengah Efisiensi

Di tengah pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat, Pemkab Gunungkidul memilih strategi skala prioritas. Anggaran Rp7,5 miliar digelontorkan untuk memperbaiki empat ruas jalan strategis, termasuk Jalan Umbulrejo–Genjahan (Rp3,5 miliar) serta kawasan Pantai Sepanjang (Rp1,6 miliar).

Penataan kawasan wisata dan tata kota juga menjadi sorotan. Relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Alun-alun Wonosari dengan dukungan dana Rp1 miliar disebut sebagai langkah berani menciptakan estetika kota yang lebih tertata. Meski sempat memunculkan dinamika dan pro-kontra, kebijakan tersebut diklaim sebagai investasi kenyamanan jangka panjang bagi warga dan wisatawan.

Catatan Kritis dan Harapan

Satu tahun pertama kepemimpinan Endah–Joko menunjukkan kombinasi ketegasan personal dan manuver administratif. Namun, pekerjaan rumah masih menanti. Infrastruktur jalan di pelosok belum sepenuhnya tertangani akibat keterbatasan fiskal.

Masyarakat kini menanti bagaimana duet ini mampu mengonversi ketegasan menjadi stabilitas ekonomi yang lebih merata. Filosofi Ngayomi (melindungi), Ngayani (memberdayakan), dan Ngayemi (menenangkan) akan terus diuji konsistensinya hingga akhir masa jabatan.

Satu hal yang sudah terbaca jelas: “Singa” Gunungkidul itu telah memberi pesan tegas, ia siap pasang badan untuk rakyatnya.

Profil “Srikandi” Ponjong: Dari Ketua DPRD hingga Abdi Dalem

Lahir di Ponjong, 23 Maret 1976, Endah tumbuh dari akar rumput politik. Kariernya dimulai sebagai Tenaga Ahli Fraksi PDI Perjuangan hingga menjabat Ketua DPRD Gunungkidul periode 2019–2024.

Di luar panggung politik, ia adalah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta bergelar Nyi KMT Sari Bekti Argani perpaduan ketegasan dan kehalusan budi Jawa yang membuatnya menjadi salah satu bupati perempuan paling disegani di DIY.

Saat ini, Endah tengah menempuh pendidikan Doktor (S3) di Universitas Diponegoro, dengan fokus ilmu peternakan. Visi ekonomi kerakyatan diwujudkan melalui program unggulan seperti Ngguyang Sapi Neng Tlogo.

Dalam aspek transparansi, ia melaporkan LHKPN senilai Rp5,18 miliar dengan catatan hutang Rp0. Rekam jejak ini ia sebut selaras dengan komitmennya memberantas pungli, terutama di sektor pariwisata daerah.

Kini, aksi gebrak mejanya bukan sekadar simbol ketegasan, melainkan peringatan terbuka: jangan coba-coba mempermainkan rakyat Gunungkidul selama Endah Subekti berdiri di barisan terdepan.



Posting Komentar

0 Komentar