GUNUNGKIDUL — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Gunungkidul baru saja menggelar Musyawarah Kabupaten (Mukab) untuk periode kepengurusan 2026–2031. Dalam forum lima tahunan tersebut, Joko Pintoyo kembali dipercaya untuk memimpin sebagai Ketua Kadin Gunungkidul.
Usai terpilih, Joko memaparkan sejumlah visi strategis untuk memperkuat perekonomian di Bumi Handayani. Fokus utama diarahkan pada penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), investasi pariwisata berkelanjutan, serta pemerataan pembangunan industri di wilayah utara Gunungkidul.
Digitalisasi UMKM Jadi Prioritas
Salah satu agenda penting Kadin ke depan adalah mempercepat digitalisasi UMKM, terutama bagi pelaku usaha yang masih memiliki keterbatasan dalam pemanfaatan teknologi.
Joko mengungkapkan, Kadin akan membentuk komisi tetap yang secara khusus membidangi informatika dan teknologi. Komisi ini akan bersinergi dengan Dinas Koperasi dan UKM untuk melakukan pendampingan intensif.
“Ke depan kami akan memiliki komisi tetap terkait informatika dan teknologi. Kami akan bersinergi dengan Dinas Koperasi dan UKM untuk membina UMKM agar lebih melek teknologi, sehingga usaha mereka bisa terus tumbuh dan berkembang lebih baik,” ujar Joko.
Investasi Pariwisata Berbasis Kelestarian Lingkungan
Di sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Gunungkidul, Kadin menegaskan komitmen mendorong investasi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan karst.
Menurut Joko, setiap rencana investasi harus memiliki konsep yang jelas sejak awal, termasuk analisis dampak lingkungannya, agar seluruh proses berjalan transparan dan sesuai aturan.
“Kadin sangat mendorong investasi pariwisata, namun dalam perjalanannya tidak boleh melanggar aturan yang berlaku. Konsep pembangunan harus dipaparkan sejak awal, termasuk kaitannya dengan dampak lingkungan, sehingga semua prosesnya jelas dari awal,” tegasnya.
Wilayah Utara Diproyeksikan Jadi Sentra Industri
Sebagai strategi pemerataan ekonomi, Kadin Gunungkidul membagi arah pengembangan wilayah sesuai potensi masing-masing. Wilayah selatan tetap difokuskan pada sektor pariwisata, wilayah tengah berfungsi sebagai daerah penyangga, sementara wilayah utara seperti Semin, Ngawen, dan sekitarnya diproyeksikan menjadi kawasan industri padat karya.
Joko menilai wilayah utara memiliki potensi besar untuk pengembangan industri garmen dan tekstil yang relatif minim kebutuhan air serta limbah cair, namun mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Strategi ini juga menjadi respons atas meningkatnya angka pengangguran akibat gelombang pemutusan hubungan kerja di industri besar.
“Harapan kami daerah utara dan Semanu bisa tumbuh menjadi sentra industri. Saat ini di Ngawen sudah ada industri dengan sekitar 150 karyawan, dan akan terus kita dorong hingga bisa menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja. Dengan tumbuhnya industri ini, kami berharap PAD meningkat dan angka pengangguran bisa ditekan secara signifikan,” tutup Joko.
Dengan visi tersebut, Kadin Gunungkidul menegaskan komitmennya menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mengawal pembangunan ekonomi yang inklusif, merata, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul.





0 Komentar