Warta Dhaksinarga - Aula RSUD Wonosari dipenuhi suasana yang tak biasa, Ahad (19/04/2026). Bukan sekadar antrean pasien, tetapi barisan harapan yang duduk rapi menunggu giliran. Sebagian menggenggam tangan anggota keluarga, sebagian lain menatap kosong ke depan dengan satu keinginan sederhana: bisa kembali melihat dunia dengan jelas.
Di tengah keheningan yang sesekali pecah oleh panggilan petugas medis, terselip kisah-kisah yang tak selalu terdengar. Ada lansia yang mulai kehilangan ketajaman penglihatan, ada pula pelajar yang kesulitan membaca tulisan di papan kelas. Mereka datang dari berbagai sudut Gunungkidul, membawa harapan yang sama—mendapatkan kembali cahaya dalam hidup mereka.
Momentum itu hadir melalui peringatan Hari Ulang Tahun ke-103 Rumah Sakit Mata Dr. YAP Yogyakarta, yang berkolaborasi dengan RSUD Wonosari menggelar bakti sosial operasi mata gratis dan pembagian kacamata. Namun kegiatan ini jauh melampaui seremoni tahunan. Ia menjadi jawaban nyata atas kebutuhan layanan kesehatan mata yang masih menjadi tantangan di daerah.
Sejak akhir Maret hingga pertengahan April 2026, upaya ini telah dimulai secara senyap namun terarah. Tim medis bergerak dari satu titik ke titik lain, melakukan skrining awal di klinik dan puskesmas. Dari proses inilah, potret kebutuhan masyarakat mulai tergambar jelas kasus katarak yang tak tertangani, gangguan penglihatan pada usia produktif, hingga anak-anak yang membutuhkan alat bantu sederhana agar tetap bisa belajar optimal. Sabtu (18/04), tahap skrining lanjutan digelar di Aula Yudistira RSUD Wonosari. Suasana menjadi lebih serius. Pemeriksaan dilakukan lebih mendalam, memastikan kesiapan pasien untuk tindakan medis. Di titik ini, harapan yang sebelumnya samar mulai terasa nyata.
Keesokan harinya, Ahad (19/04), ruang operasi menjadi pusat dari seluruh rangkaian kegiatan. Puluhan tindakan medis dilakukan dalam satu hari. Operasi katarak mendominasi, diikuti penanganan pterygium dan glaukoma tiga gangguan mata yang kerap menjadi penyebab utama menurunnya kualitas hidup masyarakat.
Namun di balik angka-angka tersebut, tersimpan cerita yang lebih bermakna. Seorang kakek, misalnya, yang selama bertahun-tahun hanya bisa mengenali suara cucunya, kini berpeluang kembali melihat wajah yang selama ini hanya ia bayangkan. Di sudut lain, seorang pelajar menerima kacamata pertamanya sebuah benda sederhana yang membuka akses baru terhadap dunia belajar.
Direktur Utama RS Mata Dr. YAP, dr. Erin Arsianti, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan semata tentang tindakan medis. “Ini tentang membuka kembali akses bukan hanya penglihatan, tetapi juga masa depan. Anak-anak bisa belajar dengan lebih baik, orang tua bisa kembali mandiri,” ujarnya.
Sebanyak 100 kacamata gratis dibagikan kepada pelajar dari jenjang SD hingga SMA, menjadi bagian dari upaya kecil yang berdampak besar dalam jangka panjang. Direktur RSUD Wonosari, Ismono, melihat kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di daerah. Menurutnya, sinergi lintas institusi menjadi kunci untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
Dukungan juga datang dari Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya membantu masyarakat secara langsung, tetapi juga memperkuat fondasi layanan kesehatan di wilayahnya. Namun, ada satu momen yang memberi arti lebih dari sekadar bakti sosial.
Ground breaking pembangunan Klinik Utama Mata “Dr. YAP” di Gunungkidul menjadi simbol komitmen jangka panjang. Ini bukan sekadar pembangunan fasilitas, tetapi langkah nyata menghadirkan layanan kesehatan mata yang lebih dekat, lebih cepat, dan lebih terjangkau. Selama ini, banyak warga harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan spesialis mata. Kehadiran klinik ini diharapkan mengubah realitas tersebut membawa layanan berkualitas lebih dekat ke masyarakat.
Pada akhirnya, bakti sosial ini bukan hanya tentang menyembuhkan. Ia adalah tentang mengembalikan kemandirian, membuka peluang, dan menyalakan kembali harapan. Dari ruang tunggu yang sederhana di RSUD Wonosari, cahaya itu mulai menyala perlahan namun pasti. Dan dari Gunungkidul, harapan itu kini menyebar, menerangi langkah banyak orang menuju kehidupan yang lebih jelas, lebih mandiri, dan lebih bermakna.





0 Komentar